Selasa, 06 Agustus 2013
tenteng syiah
Jejak kelam Syiah dalam sejarah runtuhnya kekhilafahan
Islam menjadi pelajaran penting, bahwa mereka adalah para pengkhianat
yang menikam kaum muslimin dan meruntuhkan kekuasaan Islam. *** Baghdad
baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti
Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan
yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil
menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban
Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang
jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang
ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan
kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah
Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.
Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan
Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah
At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan
sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan
apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar”
(hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya,
karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli
hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana
yang mu’tabar. Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak
lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu
Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya
konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang
mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian
menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah. Ia diangkat sebagai perdana
menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam
hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan
Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa
Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota
Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada
pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap
melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka
kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan
Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin
melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran
sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti
Fathimiyah, para ulama dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa
An-Nihayah, XIII/202) Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim
Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan
Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin
Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu
mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan
masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan
kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah
bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban
Islam yang gemilang, tinggal kenangan. Setelah berhasil menaklukkan
Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh
Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat
kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan
menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh
hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota.
Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah
kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang
ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari
Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu,
ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun,
peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah
dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami,
kecuali pedang…!” Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang
bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan
Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan,
hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain
Aleppo, berhasil tunduk pada kekuasaan Tartar. Negeri Syam yang
dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah
pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh
orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya
agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah
mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat
salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama
yang benar adalah agama Al-Masih..”. Mereka mengarak salib-salib besar
mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri
menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang
pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal
sangat melindungi kaum Nashrani. Kota Damaskus dan Aleppo berhasil
ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu
harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil
ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah,
maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di
negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah.
Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan,
dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu
berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara
pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh
Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu Katsir
Rahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah
wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah
membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati
busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta
kaum muslimin…” Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat
Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan
bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah,
merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu,
pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru
mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk
tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan
penjajah tersebut Padahal Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari
kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan
Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum
muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga
dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.
Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik
kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu
marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan,
“Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh
pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa
Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal
sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh.
(Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li
An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36) Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad
bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa
disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk
orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui
bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin.
Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang
kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir
dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar
mengepung kota Damaskus, Ibnu Taimiyah dengan lantang
mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu
batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum
muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini
untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi
pusat iman dan sunnah, sampai Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di
sana.” Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah
Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap
kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk
mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh
kaum Sunni. Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama
tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk
untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni
dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk
adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak
keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut
ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak
terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:
Tarikh Alawiyyin, hlm. 407) Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus,
berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin
Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari
berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah
wilayah di Palestina. Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659
H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan
membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah.
Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars,
berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di
Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar
dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin. Dengan kemenangan di
Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan
Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para
budak) kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga
kekuasaannya semakin luas. Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah
Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam
sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte
Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari
Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan
Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang
Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman
bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.”
(Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I
(terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478) Dari keterangan di
atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte
Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah
melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga
mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan
Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis,
semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah,
baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin
mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah
Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali
Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha
Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu
Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258 Pengkhianatan Selanjutnya Ketika Daulah
Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan
bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah
Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas,
selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang
menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah
Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota
kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal
Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan
membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah
Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk.
Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai
Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan Khilafah Utsmaniyah pada
1924. Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk
menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam.
Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka
secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus
terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai
pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada
musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi
untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan
terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan
berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di
Suriah. Sebuah dokumen luar negeri Perancis, Nomor 3547 tertanggal 15
Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah
kepada pemerintah Perancis, yang diantaranya ditandatangani oleh
Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad. Surat tersebut berisi
permohonan agar Perancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah,
karena mereka khawatir, jika Perancis hengkang, keberadaan mereka
terancam. Surat tersebut berbunyi: “Presiden Perancis yang
terhormat, Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan
kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan
pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan
masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat,
dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.
Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga
Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan
kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di
Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang
Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas
dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak
pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum
muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada
Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah. Kita menghargai
kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan
keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah
masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme
agama terhadap kaum muslimin. Kami sebagai rakyat Alawiyah yang
diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap,
pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan
menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami
yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari
mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan
besar untuk Perancis.” Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh
Syiah Nushairiyah, yang membujuk Perancis untuk tetap menjamin dan
mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh
Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha
Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid.
(Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah
dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera,
2013, hlm. 65-66) Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di
Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah
atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan
ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka
merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di
Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui
kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk
bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang
direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun,
kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle, dan berjuang
habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus
Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak
tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa,
maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya
adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum
muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan
Tuhan. Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai
hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan
musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah,
mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”
[Artawijaya ; Editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir
Jakarta] Sumber : arrahmah.com http://www.visimuslim.com/ 2013/08/pengkhiatan-syiah-di-balik-runtuhnya.html#.UforSE6LdrU.facebookPengkhiatan Syiah di balik runtuhnya kekhilafahan Islam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar